Jakarta – Upaya Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Madura dalam memperjuangkan keadilan pengelolaan energi bagi daerah penghasil mendapat respons positif dari Anggota DPD RI, Lia Istifhama. Dukungan tersebut disampaikan saat audiensi bersama pengurus DEM Madura di Kantor DPD RI, Jakarta.
Dalam forum tersebut, DEM Madura memaparkan berbagai persoalan pengelolaan energi di Pulau Madura yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap pasokan energi di Jawa Timur, namun belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah.
Ketua DEM Madura, Abdul Syakur, menegaskan bahwa pengelolaan energi harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat lokal. Ia menilai, sektor energi tidak cukup hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga harus menghadirkan keadilan ekonomi bagi daerah penghasil.
“Potensi energi Madura sangat besar, tetapi yang perlu dikawal adalah bagaimana pengelolaannya benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, DEM Madura juga menyoroti keberadaan sejumlah kontraktor migas yang beroperasi di wilayah Madura dan sekitarnya. Mereka mendorong adanya peningkatan keterlibatan tenaga kerja lokal, penguatan ekonomi masyarakat, serta program pembangunan berkelanjutan di sekitar wilayah operasi industri energi.
Isu pengembangan sumber daya manusia turut menjadi perhatian dalam audiensi tersebut. DEM Madura mengusulkan adanya peningkatan akses pendidikan, termasuk program beasiswa serta penguatan bidang studi yang relevan dengan sektor energi dan migas, guna mempersiapkan generasi muda yang kompeten di industri strategis tersebut.
Menanggapi hal itu, Lia Istifhama mengapresiasi langkah DEM Madura yang dinilainya sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap tata kelola energi nasional. Ia menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa menjadi elemen penting dalam memastikan kebijakan energi tetap berpihak pada masyarakat daerah.
“Gerakan mahasiswa seperti DEM Madura sangat penting untuk memastikan pengelolaan energi tidak menjauh dari kepentingan masyarakat daerah,” kata Lia.
Ia juga menekankan bahwa pengelolaan energi harus mempertimbangkan aspek sosial dan budaya masyarakat lokal, sehingga kebijakan yang diambil tidak hanya berorientasi pada target produksi, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat di wilayah penghasil.
Dalam kesempatan tersebut, DEM Madura turut menyampaikan rencana program edukasi dan literasi energi, termasuk pengenalan industri migas serta peningkatan pemahaman pemuda terhadap sektor energi agar lebih kritis dan berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, Lia Istifhama menyatakan komitmennya untuk mengawal aspirasi DEM Madura agar dapat diteruskan kepada kementerian dan lembaga terkait.
“Energi bukan hanya soal produksi, tetapi soal keadilan dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” tegasnya.
Audiensi ini menjadi langkah penting bagi DEM Madura dalam memperkuat peran mahasiswa sebagai pengawal kebijakan energi, sekaligus mendorong terciptanya tata kelola energi yang lebih adil, transparan, dan berpihak pada daerah penghasil.
Penulis : Abd. Syakur